Minggu, 25 Maret 2012

Desain Database

Desain DataBase

Database yang dirancang menyediakan akses untuk up-to-date informasi yang akurat. Karena desain yang benar adalah penting untuk mencapai tujuan dalam bekerja dengan database, investasi waktu dibutuhkan untuk mempelajari prinsip-prinsip desain yang masuk akal. Pada akhirnya, kamu akan jauh lebih mungkin berakhir dengan sebuah database yang memenuhi kebutuhan mu dan dapat dengan mudah mengakomodasi perubahan.



APA DESAIN DATABASE YANG BAIK?
Prinsip-prinsip tertentu memandu proses desain database. Prinsip pertama adalah bahwa informasi duplikat (disebut juga data yang berlebihan) adalah buruk, karena limbah ruang dan meningkatkan kemungkinan kesalahan dan inkonsistensi. Prinsip kedua adalah bahwa kebenaran dan kelengkapan informasi adalah penting. Jika database berisi informasi yang salah, setiap laporan yang menarik informasi dari database juga akan berisi informasi yang salah. Akibatnya, setiap keputusan yang Anda buat yang didasarkan pada laporan-laporan tersebut kemudian akan salah informasi.

Sebuah desain database yang baik, 
  • Membagi informasi Anda ke subjek berbasis tabel untuk mengurangi data yang berlebihan.
  • Menyediakan akses dengan informasi yang diperlukan untuk bergabung dengan informasi dalam tabel bersama-sama sesuai kebutuhan.
  • Membantu mendukung dan memastikan keakuratan dan integritas informasi Anda.
  • Mengakomodasi data pengolahan dan pelaporan kebutuhan.

Langkah-langkah yang baik dan benar untuk mendesain database :

  1. Analisis Persyaratan: Langkah pertama dalam mendesain sebuah aplikasi database adalah memahami dan mengetahui data yang harus disimpan di dalam database, aplikasi apa yang harus dibangun diatasnya, dan jenis operasi apa yang lebih banyak digunakan, dan subjek untuk melakukan persyaratan yang ada. Dengan kata lain, kita harus tahu apa yang diinginkan pengguna database tersebut. Biasanya ini adalah sebuah proses informal yang melibatkan partisipasi kelompok pengguna, studi tentang lingkungan pengoprasian saat ini dan bagaimana perkiraan perubahan lingkungan tersebut, analisis dokumen yang ada dalam suatu aplikasi yang diharapkan akan diganti atau dilengkapi oleh database, dan seterusnya. Banyak metodologi yang diusulkan untuk menyusun dan menampilkan informasi yang dikumpulkan pada langkah tersebut. Beberapa alat otomatis pun telah dikembangkan untuk mendukung proses ini.

    2. Desain Database Konseptual: Informasi dikumpulkan pada saat analisis persyaratan digunakan untuk mengembangkan deskripsi data tingkat tinggi yang harus disimpan dalam database, bersama dengan batasan yang telah diketahui untuk menetapkan penyimpanan data tersebut. Langkah ini sering dilakukan dengan menggunakan model ER. Model ER adalah salah satu dari model data tingkat tinggi, atau semantik, yang digunakan dalam desain database. Tujuannya adalah menciptakan gambaran sederhana tentang data yang mirip dengan pemikiran pengguna dan pengembang mengenai data tersebut (orang dan proses yang dinyatakan dalam data tersebut). Hal tersebut menfasilitasi diskusi di antara orang-orang yang terlibat dalam proses desain, bahkan mereka yang tidak mempunyai latar belakang teknis. Pada saat yang sama, desain awal harus akurat untuk membantu ketapatan translasi ke dalam sebuah model data yang didukung oleh sistem database komersial (yang dalam prakteknya berarti model relasional).

    3. Desain Database Logika: Kita harus memilih sebuah DBMS untuk mengimplementasikan desain database kita, dan mengubah konsep desain database menjadi sebuah skema database dalam model data dari DBMS terpilih. Kitah hanya akan memperhatikan DBMS relasional, dan dengan demikian tugas desain logika adalah mengubah skema ER menjadi skema database relasional.

    4. Perbaikan Skema: Langkah keempat dalam desain database adalah analisis sekumpulan relasi dalam skema database relasional untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul, dan memperbaikinya. Berbeda dengan analisis persyaratan dan langkah-langkah desain konseptual, yang secara esensial bersifat subjektif, perbaikan skema dapat dipandu oleh beberapa teori yang kuat dan bagus.  Langkah keempat ini, para akademis IT lebih sering disebut dengan Normalisasi.

    5.  Desain Database Fisik: pada langkah ini, kita juga mempertimbangkan beban kerja umum yang diharapkan dapat didukung oleh database kita dan memperbaiki deswain database di masa mendatang untuk memastikan terpenuhinya kriteria performa yang diinginkan. Langkah ini hanya mencakup pembuatan indeks pada beberapa tabe dan mengelompokkan beberapa tabel, atau bahkan melibatkan desain ulang yang substansial terhadap beberapa bagian skema database yang didapat dari langkah pertama desain database. 

    6.  Desain Aplikasi dan Keamanan: Semua proyek perangkat lunak yang melibatkan sebuah DBMS harus mempertimbangkan aspek aplikasi yang berada di luar database itu sendiri. Metodologi desain seperti UML mencoba menekankan desain perangkat lunak dan siklus pengembangan yang lengkap. Secara singkat, kita harus bisa mengidentifikasi entitas (contohnya pengguna, grup-grup pengguna, dan bagian-bagian lain) dan proses-proses yang terlibat dalam aplikasi. Kita harus menggambarkan peran setiap entitas dalam setiap proses yang akan direfleksikan pada beberapa tugas aplikasi, sebagai bagian dari aliran kerja lengkap untuk tugas tersebut. Untuk tiap peran, kita harus bisa mengidentifikasi bagian database yang harus bisa diakses dan yang tidak bisa diakses, dan kita harus bisa mengambil langkah untuk memastikan bahwa aturan akses terseut dilakukan. DBMS memberikan beberapa mekanisme untuk membantu langkah tersebut.

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------














Tidak ada komentar:

Posting Komentar